Mahasiswa UNESA Lawan Food Waste lewat Burnt Cheesecake
Pemanfaatan sisa makanan (food waste, Red) dalam industri perhotelan kerap luput dari perhatian. Padahal, sektor perhotelan menjadi salah satu penyumbang food waste cukup besar, khususnya dari dapur pastry.
Di sinilah ide kreatif menjadi penting. Berangkat dari banyaknya trimming cake—sisa potongan kue yang masih layak konsumsi tetapi tidak bisa disajikan ulang—seorang mahasiswa asal Surabaya berupaya mengubah limbah dapur menjadi produk bernilai.
Inovasi ini tak hanya menekan pemborosan, tetapi juga membuka ruang pembelajaran nyata tentang keberlanjutan di industri perhotelan. Pemanfaatan trimming cake menjadi produk lain dilakukan oleh Sekar Putri Nabillah, mahasiswa S1 Pendidikan Tata Boga UNESA.

Gambar 1. Sekar Putri Nabillah di dapur Java Paragon Hotel and Residence
Lajang kelahiran 31 Oktober itu menjalani program magang selama enam bulan di Java Paragon Hotel and Residence. Selama periode tersebut, anak pertama dari dua bersaudara itu terlibat langsung dalam operasional dapur pastry, sekaligus melakukan pengembangan produk selama satu hingga dua bulan.
Dari pengamatannya, Sekar melihat satu persoalan yang berulang: banyak sisa trimming cake maupun kue yang masih layak konsumsi harus dibuang karena bentuknya tidak rapi, terpotong kurang presisi, atau teksturnya mulai mengering.
“Di hotel ini, sisa trimming cake cukup banyak. Padahal sebenarnya masih bisa dimanfaatkan,” ujar Sekar yang sekarang duduk di Semester Lima itu. Kondisi itulah yang mendorongnya merancang sebuah inovasi produk pastry yang tidak hanya kreatif, tetapi juga relevan dengan isu pengurangan food waste.
Produk yang dikembangkan Sekar adalah burnt cheesecake infused jasmine tea. Keunikan kue tersebut terletak pada penggunaan sisa trimming cake sebagai base atau dasar kue. Dengan pengolahan yang tepat, sisa kue tersebut dapat diolah kembali tanpa mengurangi kualitas rasa maupun tampilan produk akhir. Inovasi ini sekaligus menjadi contoh konkret bagaimana limbah dapur bisa diolah menjadi sajian baru yang memiliki nilai jual.

Gambar 2. Sekar Putri Nabillah menyelesaikan pembuatan cake di dapur Java Paragon Hotel and Residence
Menurut Sekar, kegiatan ini krusial bukan hanya bagi operasional industri perhotelan, tetapi juga bagi pengembangan kompetensi mahasiswa. “Sebagai mahasiswa, saya belajar untuk lebih peka terhadap masalah di dapur dan mencari solusi yang aplikatif. Pemanfaatan trimming cake ini membantu saya berpikir kritis untuk menanggulangi food waste,” kata alumnus SMK Negeri 3 Malang itu.
Proses pelaksanaan inovasi berjalan relatif lancar. Sekar secara rutin berkonsultasi dengan senior chef untuk memastikan standar rasa, tekstur, dan keamanan pangan tetap terjaga. Dukungan dari tim dapur menjadi faktor penting dalam pengembangan produk tersebut.
Namun, tantangan tetap muncul, terutama pada tahap pemilihan teh untuk proses infus ke dalam krim cheesecake. Pemilihan jenis teh menjadi krusial karena sangat memengaruhi warna, aroma, rasa, hingga tekstur akhir kue. Setelah melalui beberapa percobaan, Sekar memilih jasmine tea yang memiliki aroma harum kuat dan warna yang menarik, sehingga mampu memperkaya karakter burnt cheesecake tanpa mendominasi rasa aslinya.
Inovasi ini membuktikan bahwa isu keberlanjutan dapat dimulai dari dapur, melalui langkah sederhana namun berdampak nyata. Bagi Sekar, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kreativitas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam industri kuliner.
Di sisi lain, upaya ini menunjukkan bahwa pengurangan food waste bukan sekadar wacana, melainkan bisa diwujudkan melalui inovasi yang tepat guna dan bernilai ekonomi.
Author : Sekar Putri Nabillah, 23050394044
Editor : Fahniati Sofi Tartilla