INTRODUCING JAMU IN THE PHILIPPINES, A BACHELOR OF CULINARY ARTS EDUCATION PROVIDES JAMU-MAKING TRAINING FOR THE WORLD AMBASSADOR'S MOM
Makati – jamu merupakan
salah satu warisan leluhur yang terkenal
memiliki berbagai manfaat bagi Kesehatan. Hal ini yang membuat Dosen S1
Pendidikan Tata Boga FT Unesa memperkenalkan jamu dengan memberikan pelatihan
pengolahan jamu berbahan Toga (tanaman obat keluarga). Dr. Sri Handajani, M.Kes, Dra. Lucia Tri
Pangesthi, Mauren Gita Miranti, S.Pd.,M.Pd. dan tim nya yang merupakan dosen S1
Pendidikan Tata Boga telah mengembangkan jamu instan dari Toga yang kemudian
dikenal dengan Herbanesa. Selain itu Dr. Sri Handaji,
M.Kes dan tim juga membuat Sarabba dan beras kencur instan dengan rasa yang
otentik.
Sri Handajani dan tim berkesempatan menjadi narasumber pada kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Internasional di Makari, Philipina. PKM ini berlangsung dengan bekerjasama dengan Kedubes Indonesia di Philipina yang di tangani langsung oleh Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd. Menurut Mauren, memperkenalkan jamu dikancah internasional ini salah satu cara untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia. Selain memperkenalkan, kegiatan ini juga secara tidak langsung dapat mencegah klain jamu oleh negara-negara lain, mengingat banyak juga negara-negara tetangga yang memiliki kekayaan alam yang serupa. Selanjutnya Sri Handajani juga menambahkan “mungkin banyak orang yang belum tahu kalau jamu sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Seperti budaya Indonesia yang lain, jamu digarisbawahi sebagai warisan budaya yang harus dijaga kelestariannya. Minuman tradisional ini terbukti secara historis sebagai pengetahuan asli bangsa Indonesia yang telah digunakan selama ribuan tahun dari generasi ke generasi. Yang menetapkan adalah UNESCO. Sehingga memalui pelatihan pembuatan jamu ini, kita kasih tau”.


Peserta pelatihan adalah Ibu Kedubes dari negara-negara lain, yaitu dari Turki, Lebanon, Amerika Serikat, Inggris, China, Australia, Argentina, Thailand, India, Malaysia, Singapore, California, dan negara lainnya. Umumnya tanaman Toga yang digunakan dalam membuat jamu hampir semuanya dimiliki oleh negara-negara tersebut, kecuali kencur (aromatic ginger), jahe emprit (java ginger), jahe merah (red ginger), dan daun sirih (betel leaf). Namun Lusia menjelaskan jika itu tidak masalah. Jamu dapat dibuat dengan bahan rimpang/toga yang ada, yang penting kita tau khasiat bahan tersebut dan paham bagaimana Teknik pembuatan jamu ready to drink atau jamu instan.

Lebih lanjut, Lucia mendemonstrasikan bagaimana
cara membuat jamu instan dengan teknik kristalisasi. Selama pelatihan peserta
menjunjukan antusiasmenya terhadap minuman jamu. Selain karena aromanya yang
sangat harum, ketika meminum Herbanesa yang terbuat dari jahe gajah, jage
emprit, jahe merah, daun sirih, temulawak, dan rempah lainnya, rasa hangat
langsung terasa ditenggorokan. Salah satu peserta dari Lebanon menyampaikan
bahwa dinegaranya tidak ada rempah-rempah seperti ini, dan minuman tradisional
dari negaranya juga bukan seperti jamu. Namun Ibu Kedubes dari Lebanon ini
mengaku sangat menyukai Jamu yang beraroma aromatik. “selain rasanya yang
nikmat, kalau bisa membuat jamu dirumah, juga membuat rumah menjadi harum”
pungkasnya.