Kediri: Di Balik Kejayaan Masa Lalu, Ada Kekayaan Rasa yang Tak Lekang Waktu
Sejarah Keberhasilan Kota Kediri di Masa Lalu
Kediri, salah satu kota kuno di Jawa Timur, memiliki sejarah panjang dan penting di kepulauan Indonesia. Sejak masa Kerajaan Kadiri (abad ke-11 hingga ke-13 M), wilayah ini menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Kadiri (Kediri), salah satu kerajaan besar penerus Kerajaan Kahuripan setelah masa pemerintahan Raja Airlangga.Setelah Airlangga wafat, kerajaannya terbagi menjadi dua: Janggala dan Panjalu (Kediri). Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Raja Jayabaya (1135–1157 M). Di bawah kepemimpinannya, Kediri dikenal sebagai kerajaan yang makmur, damai, dan maju dalam bidang sastra dan ekonomi.Salah satu karya sastra besar yang lahir pada periode ini adalah "Kakawin Bharatayudha" karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Karya ini menjadi tidak penting dalam perkembangan sastra Jawa klasik.Selain itu, ramalan Jayabaya (Jangka Jayabaya) juga merupakan bagian dari warisan budaya spiritual masyarakat Jawa hingga saat ini.Kemunduran Kediri terjadi sekitar abad ke-13, ketika kekuasaannya digantikan oleh Kerajaan Singhasari yang Didirikan oleh Ken Arok. Meskipun demikian, pengaruh Kediri tetap kuat, terutama terhadap budaya, bahasa, dan tradisi masyarakat Jawa Timur bagian barat. Warisan Budaya Kuliner KediriSelain warisan sejarahnya yang gemilang, Kediri juga kaya akan warisan kuliner tradisional yang mencerminkan kearifan lokal dan cita rasa masyarakatnya. Keunikan kuliner Kediri sebagian besar dipengaruhi oleh letak geografisnya, yang menentukan ketersediaan bahan-bahan lokal.Kediri dulunya dikenal sebagai daerah pertanian yang subur. Hasil bumi yang melimpah seperti padi, kacang tanah, kedelai, dan rempah-rempah mempengaruhi pola makan dan tradisi kuliner masyarakat setempat. Pada masa itu, makanan diolah dari bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh di sawah, kebun, dan sungai. Cara membuatnya sederhana, seperti merebus, mengukus, atau memanggang, tetapi rempah-rempah tradisional Jawa seperti kunyit, lengkuas, ketumbar, daun jeruk purut, serai, dan daun salam juga digunakan.Setelah masa kejayaan Kerajaan Kediri, daerah ini tetap menjadi wilayah vital di Jawa Timur, terutama dalam perdagangan hasil pertanian dan pangan. Selama masa penjajahan Belanda dan kedatangan pedagang Tionghoa, gaya hidup dan selera masyarakat setempat mulai dipengaruhi oleh budaya luar. Beberapa makanan, seperti roti, kue kering, mi, dan camilan tradisional seperti Kue Thok, Onde-onde, dan Tahu Takwa, mulai dikenal masyarakat Kediri. Namun tradisi kuliner tradisional tetap bertahan, karena masyarakat setempat melestarikannya sebagai bagian dari identitas daerahnya.
Beberapa kuliner khas Kediri yang bertahan hingga kini memiliki akar sejarah panjang:
1.
Ketahui Kesalehanmu

Tahu ini, ikon utama Kediri, telah diproduksi sejak zaman kolonial oleh para pengusaha Tionghoa. Warna kuning keemasannya berasal dari teksturnya yang diresapi kunyit. Dikenal karena teksturnya yang padat, rasa gurih, dan daya simpannya yang lama, tahu ini melambangkan perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa.
2.
Nasi Pecel Kediri

Makanan rakyat yang sudah ada sejak zaman kerajaan. Dengan sayuran rebus dan saus kacang yang manis dan pedas, nasi pecel mencerminkan pentingnya masyarakat agraris yang sehat dan ekonomis. Hingga saat ini, pecel tetap menjadi hidangan pokok di warung-warung makan tradisional.
3.
Saus Cabai Tumpang

Nama "tumpang" berasal dari cara penyajian sambal ini: disiram (diberi topping) di atas nasi dan lauk lainnya. Biasanya disajikan di atas sayur rebus atau nasi pecel. Sambal tumpang berasal dari komunitas petani sederhana di Kediri. Bahan utamanya adalah tempe semangit (tempe yang sudah mulai mengalami fermentasi lebih lanjut atau hampir busuk), yang diolah menjadi sambal. Penggunaan tempe semangit merepresentasikan kearifan lokal untuk menghindari pemborosan makanan . Hingga saat ini, sambal tumpang dianggap sebagai makanan khas Kediri , yang memperkuat identitas budaya lokal dan menarik minat wisatawan kuliner.
4.
Soto Kediri

Hidangan sup dengan rasa rempah yang ringan namun kaya. Soto ini biasanya berisi ayam suwir, tauge, dan soun, disajikan dengan sambal dan jeruk nipis. Cita rasa khasnya terletak pada kuah kuningnya yang harum, segar, dan gurih. Aroma khas soto Kediri berasal dari penggunaan bumbu “Kunci” sebagai salah satu bumbunya.
5.
Getuk Pisang
Camilan manis yang lahir dari tradisi lokal memanfaatkan buah lokal. Terbuat dari nangka matang, pisang dikukus dalam waktu lama (>2 jam) hingga berwarna merah dan bertekstur kenyal, lalu dibungkus dengan daun pisang. Getuk pisang telah menjadi oleh-oleh khas Kediri selama beberapa dekade.
Memasuki era modern, dunia kuliner Kediri terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisionalnya. Banyak wirausahawan muda mulai memadukan resep klasik dengan sentuhan modern, seperti Tahu Takwa Krispi, Tahu Pong, dan berbagai inovasi berbahan dasar tahu tradisional, Sambal Tumpang Instan yang praktis dikemas sebagai oleh-oleh, serta beragam varian getuk berbahan dasar pisang dalam berbagai bentuk, ukuran, dan kemasan.
Kuliner Kediri lebih dari sekedar makanan; kuliner ini juga mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, kebersamaan, dan kearifan lokal. Hidangan seperti pecel, sambal tumpang, dan tahu takwa seringkali melambangkan identitas masyarakat Kediri yang rendah hati, ramah, dan terbuka terhadap keberagaman.
Sejarah kuliner Kediri mencerminkan perjalanan masyarakatnya dari era kerajaan yang makmur, melalui era kolonial yang adaptif, hingga era modern yang kreatif.
Dengan cita rasa yang kaya dan tradisi yang lestari, Kediri tidak hanya dikenal sebagai "Kota Tahu", tetapi juga sebagai pusat kuliner tradisional Jawa Timur yang terus bertahan dan berkembang hingga saat ini.
Penulis : Nugrahani Astuti
Penyunting : Ratna Palupi Nurfatimah


